Hal Apa yang Kamu Sesali Karena Tidak Kamu Lakukan Ketika SMA?

Mungkin saya akan sedikit melanggar rules dalam pertanyaan ini.

Karena yang sesali justru dari SMP sampai kuliah terakhir.

1. Keengganan Bicara Pakai Kata Ganti “Lu & Gue

Saya memang terlalu pandang remeh.

Pada dua kata ganti tersebut.

Yang nyatanya dapat membuat kita tidak menjaga jarak lagi.

Entah kenapa ya,

Mungkin karena saya takut melenyapkan reputasi.

Saya yang pernah tergabung dalam kumpulan anak-anak special needs semasa SD.

Itulah kenapa semasa SMP dan SMA saya cenderung jaga jarak dan baru di tahun terakhir kuliah saya mulai lebih gampang dekat 🙁

2. Tidak Ikut Berorganisasi

Menurut saya,

Ini adalah salah satu penyelesan yang paling saya sesali sampai sekarang.

Akibatnya,

Saya rada mengalami kesulitan saat magang di awal-awal masa magang.

Dan agak khawatir dan kurang yakin.

Kalau saya bisa melamar kerja di pekerjaan yang mengandalkan kerja kelompok.

Akibatnya mirip sama nomor satu, saya jadi sukar menambah teman-teman.

3. Enggan foto bersama

Masa SMP adalah masa terhambar buat saya.

Karena saya enggan foto-foto bareng sama teman-teman seangkatan saya saat itu.

Ironisnya,

Saya niat sekali untuk foto-foto bersama teman-teman SD saya yang “senasib” tergabung dalam unit berkebutuhan khusus.

Saya punya kecenderungan menomor satukan teman-teman yang overlooked, itu masalahnya.

Untungnya,

saya masih sempat foto-foto sama teman-teman semasa SMA dan kuliah

4. Enggak PeDe Menjadi Berbeda Sendiri

Seandainya,

Waktu bisa mundur lagi ke masa lampau (katakanlah 2008),

Saya ingin sekali mengubah nasib saya menjadi tidak tertinggal.

Saya bahkan tak segan untuk beda sendiri; pilih jurusan tidak populer seperti filsafat.

Huh, bingung sendiri buat ke depannya….

Itulah yang saya rasakan…..

Billy Halim, Blogger, Graphic Designer, Front-End Web Developer

Berorganisasi. Melatih softskill.

Pada waktu SMA, cuman ada 3 aktivitas yang saya jalankan sehari-hari.

Kecuali hari libur.

SekolahLesPulang

3 aktivitas itu menjadi siklus hidup saya selama 12 tahun, dari SD sampai SMA.

Waktu SMA, saya tidak ikut organisasi atau OSIS dan hanya fokus di bidang akademik.

Setelah menjadi mahasiswa, barulah saya berorganisasi.

Banyak hal yang saya pelajari.

Dan yang menjadi penyesalan saya adalah:

  • Mengapa saya tidak ikut organisasi semenjak sekolah.
  • Mengapa tidak melatih softskill sedini mungkin?
  • Kenapa harus tunggu sampai kuliah?

Tetapi, yang berlalu biarlah berlalu. Tidak perlu berkata “Seandainya,…”. Fokus dalam menjalani hidup saat ini saja.

Aika Oseana, Seorang Hawa

Saya dulu sangat menyesal karena terlalu percaya pada kalimat ‘masa SMA nggak datang dua kali’.

Saya menyesal karena mengartikannya hanya sebagai konotasi negatif.

Saya pernah menyesal karena terlalu bersenang-senang dan kehilangan idealisme yang pernah terbentuk.

Saya menyesal di Ujian Akhir Nasional tidak percaya pada diri sendiri dan melakukan ‘transaksi hitam’.

Saya menyesal terlalu banyak melakukan hal menyenangkan hingga membuat saya lupa dengan masa depan.

Namun sekarang, saya berdiri lagi, saya menggenggam penyesalan dan ingin memulai hidup baru yang lebih bersih.

Dari penyesalan tersebut.

Saya membangun lagi masa depan,

Bahwa bukan hanya masa SMA yang terjadi sekali,

Semua masa tidak akan terulang dua kali.

Jangan terlalu menyesal.

Karena tidak terlalu bersenang-senang saat SMA.

Kita punya setiap hari untuk bersenang-senang. Kita tidak pernah terlalu tua untuk bersenang-senang.

Hargai masa kini.

Bersenang-senanglah setiap hari tanpa melupakan masa depan.

Terima kasih penyesalan.

“whatever you are, be a good one.”

– Abraham Lincoln

Aminurrahmah, Siswi SMA N 1 Magetan

Menjadi terbuka dan tidak ragu bergaul dengan anak-anak populer

  • Saya menyesal karena tidak berani melawan batasan saya sendiri dalam hal bersosialisasi.
  • Saya menyesal karena mengikuti arus mood dan mau-maunya terpengaruh kecemasan saya.
  • Saya menyesal karena menutup diri dan terlalu malu serta takut untuk menyapa teman-teman saya.
  • Saya menyesal karena terlanjur mengambil sikap “jaga jarak” dengan beberapa anak populer.

Saya tahu,

Sesungguhnya saya tidak setertutup dan sependiam ini,

Saya tahu ini hanyalah dampak berkepanjangan dari kondisi saya yang sedang hancur saat awal masuk SMA.

Tapi, saya terlanjur memproyeksikan pada teman-teman.

Bahwa sifat saya begini adanya,

Dan mereka terlanjur melabeli saya dengan stereotipe-stereotipe.

Saya jadi kesulitan untuk mengubahnya.

Saya menarik diri dari pergaulan dan tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk kembali.

Kenapa Saya Menyesal?

Karena belakangan ini saya menyadari,

Hidup saya sepertinya akan jauh lebih menyenangkan dan bahagia.

Jika saat itu saya memutuskan untuk tidak menampakkan diri sebagai seorang yang tertutup.

SMA kami membuka peluang yang lebar untuk menciptakan kenangan; dengan diadakan banyak event, kepanitiaan, kegiatan, dll.

Apalagi jika kamu adalah anak yang supel, segalanya akan terasa semakin mudah.

Tapi, saya menyia-nyiakan itu.

Saya menyia-nyiakan kesempatan untuk memiliki masa SMA yang menyenangkan.

Saya merasa berat karena segalanya menjadi terasa hambar sekali.

Saya jadi sering merasa kesepian, dan lebih sering lagi merasa menyesal.

Dan jauh lebih sering lagi merasa tak berdaya, lelah.

Masa-masa SMA saya tidak buruk, hanya saja hambar.

Tidak ada bullying, tapi ada pengucilan.

Saya tidak mendapat penerimaan yang saya harapkan di rumah,

Dan saya tak punya tempat di sekolah.

Rasanya seperti tidak sanggup bahagia,

Andai saja saat itu saya mau melawan diri saya sendiri.

Dan berpikir lebih panjang lagi.

Meskipun saat ini pun saya masih belum lulus SMA, Tapi, saya merasa sudah terlalu terlambat untuk mengubah segalanya sekarang.

Baca juga: Apakah Masa SMA Adalah Kejadian yang Tidak Bisa Dilupakan?

SUBSCRIBE AND GET MORE

Aliter enim explicari, quod quaeritur, non potest. Puta bam equidem satis, inquit, me dixisse.

Thank you for subscribing.

Something went wrong.

Leave a Reply