Apa Pendapatmu Jika Ijazah Saat Ini Tidak Menjamin untuk Mendapatkan Pekerjaan?

Waris Handayani, Penulis di Arsimedia (2017-sekarang)

Ijazah memang didapatkan dari sekolah, namun ingat sekolah tidak mengajarkan kita bagaimana caranya mencari sebuah pekerjaan.

karena menurut saya, sekolah lebih mengajarkan bagaimana kita berpikir untuk menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan.

Hal ini, tentu dapat diterapkan di dunia nyata, dengan cara berpikir:

Bagaimana caranya menemukan solusi dari masalah yang dihadapi.

Intinya adalah, sekolah mengajari Anda berpikir, ijazah adalah bukti Anda lulus sekolah.

Perkara mencari pekerjaan, menurut saya adalah tergantung bagaimana Anda mencari sebuah peluang kerja, atau bagaimana Anda megembangkan potensi serta bakat yang dimiliki.

Eli F Simbolon, Civil Engineer (2019-sekarang)

Banyak faktor yang menjamin Anda diterima untuk bekerja.

Menurut saya ijazah salah satunya.

Banyak perusahaan yang memberikan batas nilai IPK agar bisa bekerja di perusahaan tersebut.

TAPI, ijazah hanya penting diawal saja, hanya semacam izin masuk untuk bekerja.

Kenyataannya di dunia pekerjaan , ijazahmu tidak diperlukan.

Yang paling dibutuhkan adalah skill, kemauan belajar, serta pengalaman kamu. Tidak lupa juga perilaku mu, itu yang penting.

Levinus Samson, Freelance

Menurut saya, ya.

Banyak orang yang lebih mementingkan pengalaman / kemampuan karena belum tentu orang yang berijazah, portfolionya baik juga.

Anda kerja sebagai freelancer tidak (jarang) akan diminta menunjukkan ijazah Anda, yang diminta contoh pekerjaan Anda.

Misal ya ada 2 orang melamar di sebuah studio:

  • Si A berijazah + IPK bagus, tapi portfolionya jelek.
  • Si B tidak berijazah tapi portfolionya sangat profesional.

Menurut Anda, siapa yang akan diterima?

Dewi Tenriajeng, S1 Ilmu Hukum, Universitas Hasanuddin (2015) Header text

Sedari dulu, ijazah memang tidak pernah menjamin untuk mendapatkan pekerjaan.

Tapi jangan hanya melihat dari sisi itunya saja.

Lihatlah seberapa besar manfaat yang didapat ketika kuliah.

Misalnya, ilmu dan koneksi.

Bukankah bangku kuliah memang digunakan untuk menggali ilmu sedalam-dalamnya agar intelek?

Lalu, teman dari berbagai dan beragam latar belakang.

Bukankah mereka dapat digunakan untuk membuka wawasan tentang dunia atau hal yang tidak kita tahu sehingga bisa membangun suatu koneksi.

Hal-hal di atas ketika dimanfaatkan dengan baik, itulah yang akan menjaminmu mendapatkan pekerjaan.

Gurendra Bayu Aji, End user computing & presales engineer (2013-sekarang)

Menurut saya,

Jika Indonesia tercinta kita sudah ada pada titik Ijazah tidak menjamin untuk mendapat pekerjaan.

Berarti Indonesia sudah maju satu langkah.

Tapi, ingat dengan catatan yang menjadikan jaminan untuk diterima adalah Skill.

Disaat Skill lebih dihargai daripada Ijazah, maka secara bersamaan Pendidikan di Negara kita akan mengikuti perkembangan, menurut Saya pada saat itu terjadi nanti pendidikan kita sudah dewasa.

Semua jurusan sudah langsung terfokus dan tidak terlalu banyak teori yang tidak berhubungan dengan jurusan tersebut.

Tidak seperti kondisi sekarang, dimana mayoritas yang terjadi kita dipaksa untuk sekolah sekian lama, demi Ijazah dan akhirnya lulus tanpa memiliki keahlian.

Yang artinya pekerja kita masih ada di level rendah.

Saya justru sangat mengharapkan Skill lah yang menjadi penentu apakah kita akan mendapat pekerjaan atau tidak.

Dan fungsi Ijazah adalah tingkatan.

Profesionalisme semakin tinggi Ijazah maka semakin tinggi Skill. Sesuai dengan perkembangan pendidikan yang berbanding lurus.

Saya pribadi sangat prihatin dengan kondisi sekarang, kebanyakan lulusan Sarjana yang saya wawancara saat perekrutan masih 0 Skill, atau setidaknya dari nilai 1 s/d 10, mayoritas rata-rata nilainya masih 5 kebawah.

Semoga saja Indonesia kedepanya lebih memperhatikan Skill, karena menurut pengamatan saya, kita sudah mulai merangkak kearah baik ini.

Wildan Nugroho, Buruh bersertifikat

Tergantung ijazahnya,

Jadi lapangan pekerjaan itu bisa diibaratkan seperti pasar bebas.

Tidak ada ketentuan siapa harus merekrut siapa, siapa harus masuk ke perusahaan mana.

Semua bergantung ke penawaran dan permintaan.

Nah, kita sebagai orang yang mencari kerja dianalogikan sebagai komoditas yang diperjualbelikan di pasar.

Nah, pertanyaannya, apakah jenis barang, kualitas, dan harga jual barang yang kita tawarkan cocok atau tidak dengan ekspektasi pasar.

Saya analogikan jenis pekerjaan sebagai jenis barang, kualitas barang sebagai kompetensi kita, dan harga jual barang sebagai ekspektasi gaji.

Kembali ke topik, mau sekeren dan sebanyak apapun sertifikasi/ijazah yang sudah dilakukan, jika tidak cocok dengan “pembeli” ya apa boleh buat.

Bahan Evalusi Diri Sendiri

Sebagai bahan evaluasi ke diri sendiri, pertanyaannya adalah :

Jenis Barang

Apakah ijazah kita sesuai dengan lowongan yang diincar sekarang? Jika tidak, berarti kita harus mengganti target ke lowongan yang lebih sesuai.

Kualitas Barang

Apakah portofolio di CV kita masih relevan dengan pekerjaan incaran kita?

Jika tidak, berarti kita harus mulai mempertimbangkan untuk mengupdate kompetensi di CV kita, bisa dengan sertifikasi atau melaksanakan project yang berhubungan dengan upgrade skill yang dibutuhkan.

Tapi ingat, kata kuncinya adalah “harus relevan”.

Bisa jadi puluhan sertifikasi sudah diambil, tetapi tetap belum ada panggilan, setelah dicek ternyata sertifikasi di portofolio terlalu random dan kurang sesuai dengan lowongan yang diambil.

Harga Jual Barang

Apakah ekspektasi gaji yang kita berikan sudah sesuai dengan calon employer?

Saya katakan sesuai bukan rendah karena bisa jadi jika kita terlalu memasang harga jual terlalu rendah, maka calon employer akan ragu keabsahan kompetensi kita.

Sehingga dia berpaling ke calon employee lain.

Sebaliknya jika terlalu tinggi, maka hukum pasar bebas bisa menjelaskan dengan gamblang.

Baca juga:

SUBSCRIBE AND GET MORE

Aliter enim explicari, quod quaeritur, non potest. Puta bam equidem satis, inquit, me dixisse.

Thank you for subscribing.

Something went wrong.

Leave a Reply